Ketika aku termenung dalam Alamku
Tawa dan senyum mengurai wajahku
Kala dengungan dan lenkingan burung
menghiasi Alamku
Kala dedaunan pohon melambai lambai
Menghiasi alam Papua yang terpesona
Saat
tawa dan senyum mengurai wajahku
Seekor
nyamuk datang menghampiri dan menggigitku
Terkagetlah
daku ketika darah membanjiri wajahku
Ku
kaget, dia datang tanpa ku undang
Hai Nyamuk
Siang dan malam tak henti henti
Mengisap darahku
Mengisap harta kekayaanku
Sampai kapankah engkau berhenti?
Entahlah………!
Ku
tak tahu sampai kapan dia berhenti
Tubuhku
menjadi letih dan lesu
Tubuhku
menjadi kurus dan langsing
Walau
saudara yang sana pun membiarkan daku
Hai Nyamuk
Engkau datang tanpa diundang
Engkau memang licik dan halus
Engkau memang terlatih
Engkau membuat darahku terus mengalir
Seakan aku menjadi pendonor darah bagimu
Kini
ku hanya menghitung jarum jam
Sambil
meneriak riak tuk mengobatiku
Tak
ada saudara yang sana pun datang mengobatiku
Kini jarum jam menuju detik detik terakhir
Harapan pun lenyap
Nafasku pun hampir terlepas









Posting Komentar